A Hope from Manchunian

Dengan judul diatas bukan berarti gue seorang manchunian. Sebenarnya istilah manchunian itu lebih dekat kepada fans Man. City, tapi berhubung Man. United lebih berjaya, jadi label manchunian erat kepada fans United.

Melihat performa United musim ini yang jauh dari ekspektasi membuat para manchunian banyak menghela nafas panjang. Bagaimana tidak, United yang merupakan defending champion harus rela keluar dari top four. Kondisi yang sangat tak lazim tentunya.

I’m not gonna talk about neither why United perform under expectation nor why Moyes is still the number #1 behind coaching staff. We’re deeper about the hope of a manchunian.

Ada 3 tim yang sekarang bersaing untuk trofi EPL; Liverpool, City, dan Chelsea. Dua nama tim yang gue sebut di depan mempunyai kans yang paling besar untuk mendapatkan tropi. Terlebih lagi Liverpool yang bisa mendapatkan gelar jika menyapu bersih 4 laga sisa tanpa harus menunggu hasil tim lain. Untuk City dan Chelsea, tentu masih bisa mencuri gelar asalkan Liverpool tergelincir di 4 pertandingan sisa.

Manchunian mungkin tidak akan berharap Liverpool yang menjadi juara edisi 2013/2014 ini, mengingat koleksi gelar Liverpool yang hanya terpaut satu dari United. Dan lebih jauh lagi, Liverpool merupakan rival bebuyutan mereka selama puluhan tahun. Jadi, manchunian yang bijak tidak akan berharap Liverpool juara tahun ini.

Sekarang lanjut ke City. Manchester biru yang notabene merupakan tim satu kota ini memang tim baru. Tim yang sinarnya baru bersinar terang dalam 5 tahun terakhir. Manchunian juga rupanya tidak akan berharap City yang juara. Lebih kepada menghindarkan pemandangan yang tidak sedap di pandang mata jika kota Manchester menjadi lautan biru andaikan City juara. Tentu Manchunian juga sudah (sangat) trauma dengan City karena City-lah yang mencuri gelar EPL yang seyogyanya telah United genggam hingga akhirnya gol dari Kun Aguero membuyarkan impian manchunian. Gol menit ke-93 dari Aguero vs QPR di Etihad Stadium pada pertandingan pamungkas EPL membuat United harus rela melepas tropi.

Dan Chelsea. Chelsea tentunya juga bukan tim yang punya prestasi bagus di EPL. Terakhir mereka menjadi kampiun pada tahun 2010 kala Don Carlo yang membesut si biru. Di tahun-tahun berikutnya, Chelsea hanya bisa melengkapi persaingan 3 besar antara City dan United. Bahkan EPL edisi 2012/2013 mereka harus bersusah payah untuk mengunci pos ketiga dari Arsenal di pertandingan sisa EPL.

Menilik persaingan United dan Chelsea, memang hanya sedikit rekam jejak yang bisa kita telusur. Hanya pada masa 1st spell Jose Mourinho sebagai pelatih (2003-2007) yang mampu menyaingi era keemasan Fergie. Lepas dari itu, Chelsea hanya mampu tampil sebagai ‘penggangu’ 2 tim asal Manchester; City dan United.

Jadi tidak heran jika, manchunian lebih condong mendukung Chelsea untuk juara EPL tahun ini. Terlepas kebaikan Chelsea melepas ‘anak emas’ fans seperti Juan Mata ke Carrington. Tapi dukungan itupun rasanya sia-sia jika tidak dibarengi hasil positif dari 4 laga sisa dan a big luck; tergelincirnya Liverpool. So, which team will advance to the trophy? We’ll see in a couple of weeks.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s