Guru Favorit!

Malam ini entah mengapa aku ingin untuk menceritakan sesuatu. Mungkin setelah menonton sebuah video tentang complicated-nya pendidikan di Indonesia. Ya, aku ingin bercerita tentang pengalamanku di dunia pendidikan.

Sekitar 2008 atau 2009 aku yang masih duduk di SMK sudah mulai kerja sampingan. Dulu aku bekerja sebagai Co-Teacher di sebuah lembaga kursus bahasa Inggris. Aku bekerja seusai pulang sekolah hingga pukul 8 malam.

Dengan usia yang belum genap 17 tahun, aku memulai perjalananku dalam bekerja. Co-Teacher itu adalah sebutan dari asisten guru di lembaga tersebut. Pekerjaannya adalah mengajarkan extracurricular seperti speaking, reading, listening dan writing diluar jam kelas reguler.  Murid-muridku sangat bervariasi. Jika di sesi sore hari, rata-rata dari muridku adalah anak-anak Play Group, TK dan SD hingga namun di sesi malam, muridku ‘membesar’ dari mulai SMP, mahasiswa bahkan hingga para pekerja kantoran. Bayangkan, Azhar yang kala itu belum genap 17 tahun sudah harus ‘mengajari’ mereka-mereka yang lebih senior dari segi usia.

But I’m not gonna dive into extracurricular thingy. I would like to talk about another duty of being Co-Teacher; replacing the role of Teacher.

Adakalanya Co-Teacher dipercaya untuk menggantikan peran Teacher jika Teacher tersebut datang terlambat atau tidak bisa hadir. Dan aku beberapa kali dipercaya untuk menggantikan Teacher. Suatu sore aku menggantikan Mrs____ (aku lupa nama beliau) yang kebetulan beliau tidak bisa mengisi kelas tersebut. Beliau memang hampir selalu mempercayai kelasnya kepadaku. Beberapa kali beliau menghubungiku jika tidak bisa mengisi jadwal kelas. Beliau, yang aku ingat, adalah sosok yang sangat keibuan. Sangat wajar jika murid-muridnya sangat senang diajar oleh beliau.

Biasanya kalau aku akan mengisi kelas, aku datang lebih awal untuk mempersiapkan berkas-berkas yang akan digunakan untuk mengajar nanti. Sumpah, menjadi guru itu tidak mudah. Aku harus mempersiapkan bahan mengajar dan aku pun harus mempelajari materi yang akan kusampaikan di kelas nanti. Tentu aku tidak ingin terlihat bingung di depan murid. Dari sini aku baru tahu bahwa menjadi guru itu bukan menjadi orang yang lebih paham, melainkan menjadi orang yang belajar lebih dahulu.

Kali ini aku akan mengisi kelas Reach Out (sekitar kelas 1-3 SD). Ketika bel masuk dibunyikan, aku mulai mengambil berkas-berkasku dan masuk ke ruang kelas. Seperti biasa, kelas sudah menanti murid-murid yang menunggu teacher kesayangannya. Seketika aku masuk, suara protes pun keluar:

“Mrs___ ini mana?

“Yahh kok bukan Mrs___?”

“Kok mister sih yang ngajar?”

Memang muridnya hanya berlima, tapi suara teriakan anak-anak cukup membuat pekik. Seribu alasan aku keluarkan untuk membuat kelas menjadi tenang dan bisa menerima bahwa teacher kesayangannya tidak bisa hadir.

Dalam proses belajar-mengajar, aku coba untuk tetap santai dengan tetap mengacu objectives yang akan dicapai hari itu. Namun dari semua murid, ada satu murid yang cukup membuatku mengeluarkan ekstra tenaga dan perhatian. Murid ini unik dan cukup berbeda dengan yang lain. Butuh penjelasan yang cukup dalam untuk membuatnya mengerti poin yang aku ajarkan. Memang tidak semua anak memiliki tingkat pemahaman yang sama. Tidak semua pula memahami sesuatu dengan cepat, tetapi inilah esensi dari mengajar – the art of understanding – kataku.

Hampir separuh dari waktu 1.5 jam aku curahkan untuk membuat murid ini mengerti seperti teman-temannya.  Alhamdulillah, beberapa ada yang ditangkapnya, dan beberapa lagi masih belum. Tidak apa-apa, process takes time.

Tanpa terasa bel pulang pun berbunyi dan anak-anakpun teriak kegirangan. Lalu aku siapkan untuk berdoa dan aku bubarkan kelas tersebut. Sambil aku rapihkan berkas dan buku untuk kembali ke ruang teacher, aku lihat anak tersebut masih di kantin menunggu orang tuanya menjemput. Memang kebanyakan murid les anak-anak pasti di antar jemput orang tuanya. Akupun mengurungkan niatku untuk langsung ke ruang teacher, melainkan untuk menemaninya menunggu orang tuanya menjemput.

Kurang lebih 10 menit kami menunggu, akhirnya orang tuanya pun datang. Namun seketika orang tuanya datang, seketika itu pula aku terkejut. Aku kaget bukan kepalang karena orang tuanya adalah guruku saat masih di TK dulu. Langsung saja aku cium tangan layaknya aku diajarkan saat TK dahulu.

Capture

Beliau adalah ibu Asnida. Aku memanggilnya Ibu As. Ibu As ini adalah guru favoritku saat TK dulu. Aku cukup dekat dengan beliau. Bahkan setelah 10 tahun tidak diajar oleh beliau, Ibu As masih ingat denganku.

“Ibu tadi Mrs___ ga masuk, digantiin sama Mister Azhar..”

Ibu As langsung mengucapkan kalimat yang hingga sekarang masih aku ingat;

“Terimakasih ya Azhar sudah mau mengajari anak ibu. Anak ibu ini agak sedikit berbeda dari yang lain. ibu terimakasih sekali”

“Dulu ibu yang ngajarin, sekarang gantian Azhar yang ngajarin anak ibu”

Akupun tidak bisa berkata apa-apa, hanya diam dan tersenyum. Lalu mereka pamit pulang dan akupun kembali ke teacher room.

Well, I wasn’t expecting that happen. Mengajarkan seorang putri dari guru favorit saat TK dulu it was really an honour for me. Sudah 10 tahun lalu cerita ini berlalu, time flew too fast.

Kapan aku terakhir aku ketemu Ibu As? Bisa aku bilang bahwa kejadian sore itu adalah pertemuan terakhirku dengan Ibu As. Selepas lulus SMK aku merantau ke Semarang, yang membuatku tak sempat bertemu dengan beliau. Setelah lulus kuliah aku bekerja di Kepulauan Riau sampai kembali ke Bekasi. Hingga sekarangpun aku tidak tahu bagaimana kabar guru TK favoritku itu. Semoga dimanapun beliau berada semoga Allah menjaganya dimanapun beliau berada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s